harapan (atau perjuangan?) dibalik bukit
Posted by uzan on Apr 12, 2010
suatu kelaziman, atau kesedihan?
Punya kelonggaran rezeki? Berlayarlah pagi hari dari Tanjung Kramat, sambil mancing/hunting foto, banyak objek bagus disana, tapi bukan itu yg menjadi hasutan utk menulis topik ini. Berlayarlah, berlayar hingga di balik bukit nun jauh disana.. Alhamdulillah masih ada orang yang peduli dgn pendidikan, sekalipun tempatnya sangat remote (jauh dan sulit dijangkau), berlokasi di atas bukit” karang, tak ada jalan bagi mobil, bahkan motor pun harus lihay menikung. Disana kita akan berjumpa dgn suatu Pondok Pesantren (Ponpes) yg menjadi satu-satunya sarana belajar agama dan ilmu lainnya..
Disana pula hidup (muqim) 125orang calon penggerak dunia negeri ini kelak, hidup dengan keprihatinan, dalam 1 hari mereka perlu 50Kg beras, dan untuk memperoleh lauk sekadarnya mereka perlu min. 4,5jt sebulan. Selama ini mereka hidup dari para donatur. Seluruh santri tidak diizinkan utk bekerja, semua disibukkan dgn belajar, mengaji, dan hal-hal ibadah lainnya.
Banyak diantara santri itu punya mimpi utk menjadi guru, pengusaha, pilot, dosen, bahkan dokter. Oh ya saya lupa, Alhamdulillah berkat ponpes itu pula kini tdk ada satupun warga kampung itu yg putus sekolah, dari kecil hingga tua, semua bisa baca tulis, ngerti agama, dan pastinya brani ‘berlayar’ utk mencari nafkah.. Subhanallah.. sebuah kemajuan bagi daerah yg cukup terbelakang seperti ini. Tidak hanya itu, baru-baru ini bbrp santrinya pun mengikuti penjaringan untuk memperoleh beasiswa UGM.. sebuah prestasi yg mereka harapkan dapat menjadi motivasi penerusnya kelak. Mari kita berdoa semoga impian itu tercapai..
Sekarang pertanyaannya adalah siapa yg wajib membantu mereka bertahan hidup disana? sementara mereka adalah saudara-saudara kita yg kelak akan ikut membela agama bersama kita.. dan, apakah ini sudah suatu kelaziman bahwa penghuni ponpes harus prihatin dan bermukim nun jauh disana yang bahkan kendaraan pribadi pun tak sanggup menjangkaunya?? apa memang sudah masih lazim pula di negeri ini perjuangan saudara kita hanya bisa dimaklumi dgn decak kagum serta anggukan kepala ?? ahh jangan malu kawan, cukup adik-adik kita itu saja yg malu utk tersenyum ke saya waktu itu..
Allahu’alam bishowab…
jadi.., anda tentu masih punya rezeki lebih kan ? saia iakin kalao dibalik bukit dekat anda pun juga ada hal serupa.. yuk berbagi.
ah mantab sekali kau ini bang
aahh.. abang lebih mantap..